"Pada tubuhnya muncul luka-luka yang sama seperti luka Kristus. Setiap Kamis malam hingga Jumat sore, darah mengalir dari tangan, kaki, dan lambungnya. Namun bagi Santa Gemma Galgani, stigmata bukanlah tanda kemuliaan, melainkan salib yang harus disembunyikan."
Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa selama beberapa tahun terakhir hidupnya, setiap pekan Santa Gemma Galgani mengalami sebuah peristiwa yang membuat banyak orang terdiam. Menjelang Kamis malam, tubuh gadis muda dari Lucca, Italia, itu mulai memperlihatkan luka-luka yang sama seperti luka sengsara Yesus. Darah mengalir dari kedua tangan, kedua kaki, dan lambungnya. Rasa sakit semakin memuncak sepanjang hari Jumat, lalu perlahan menghilang menjelang Sabtu pagi. Pekan berikutnya, semuanya terulang kembali.
Fenomena itu tidak terjadi sekali atau dua kali. Orang-orang yang tinggal serumah dengannya menyaksikannya berulang kali. Pembimbing rohaninya mencatat setiap peristiwa dengan cermat. Bahkan beberapa dokter mencoba memahami apa yang mereka lihat, meskipun tidak mampu memberikan penjelasan yang memuaskan.

Namun, jika hanya berhenti pada kisah stigmata, kita sesungguhnya baru mengenal bagian paling luar dari kehidupan Santa Gemma.
Luka-luka itu bukanlah awal kisahnya.
Jauh sebelum darah mengalir dari kedua tangannya, hidup Gemma telah lebih dahulu dipenuhi luka-luka yang tidak terlihat oleh mata. Ia kehilangan ibu ketika masih anak-anak. Satu demi satu saudara kandungnya meninggal. Ayahnya jatuh miskin lalu wafat, meninggalkannya tanpa tempat bergantung. Ketika tubuhnya sendiri dihantam penyakit yang hampir merenggut nyawanya, impiannya menjadi seorang biarawati pun kandas karena ditolak oleh tarekat yang sangat ia cintai.
Seolah-olah Tuhan mengambil satu demi satu segala sesuatu yang selama ini menjadi sandaran hidupnya.

Namun justru melalui jalan itulah, seorang gadis sederhana dari Tuscany perlahan dipersiapkan untuk menjadi salah satu mistikus terbesar dalam sejarah Gereja.
Kisah Santa Gemma bukanlah kisah tentang seorang perempuan yang menerima stigmata. Ini adalah kisah tentang seorang jiwa yang sedikit demi sedikit dibentuk agar semakin menyerupai Kristus—hingga kasih itu akhirnya terukir, bukan hanya di dalam hatinya, tetapi juga pada tubuhnya sendiri.
Santa Gemma Galgani lahir pada 12 Maret 1878 di Camigliano, sebuah desa kecil yang tidak jauh dari kota Lucca, wilayah Tuscany, Italia. Ia adalah anak kelima dari delapan bersaudara dalam keluarga Enrico Galgani dan Aurelia Landi. Masa kecilnya dimulai dalam keluarga yang berkecukupan. Ayahnya dikenal sebagai seorang apoteker yang berhasil, sementara ibunya adalah perempuan yang sangat saleh dan menanamkan iman Katolik kepada anak-anaknya sejak usia dini.
Di antara semua kenangan masa kecil Gemma, satu sosok paling membekas adalah ibunya. Aurelia tidak hanya mengajarkan doa-doa harian, tetapi juga memperkenalkan Yesus sebagai Pribadi yang hidup dan mengasihi setiap orang. Ketika Gemma masih sangat kecil, ibunya pernah mempersembahkan dirinya kepada Hati Kudus Yesus, sebuah tindakan yang kelak dikenang Gemma sebagai awal dari perjalanan rohaninya.
Namun kebahagiaan itu tidak berlangsung lama.
Pada usia delapan tahun, Gemma kehilangan ibunya. Penyakit merenggut Aurelia, meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh dalam hati putrinya. Bagi seorang anak yang begitu dekat dengan ibunya, kehilangan itu terasa seperti dunia yang runtuh dalam sekejap.
Kesedihan itu ternyata bukan akhir dari penderitaan.Beberapa saudara kandungnya meninggal dunia dalam usia muda. Sementara itu, usaha ayahnya mengalami kemunduran hingga akhirnya bangkrut. Kehidupan keluarga yang semula berkecukupan berubah menjadi penuh kesulitan. Pada tahun 1897, ayahnya pun meninggal. Dalam usia sembilan belas tahun, Gemma menjadi yatim piatu.
Sulit membayangkan beban yang harus dipikul seorang gadis seusianya. Orang-orang lain mungkin akan mempertanyakan keadilan Tuhan. Namun dalam catatan hariannya, Gemma justru melihat semua kehilangan itu sebagai jalan yang perlahan mengajarnya untuk hanya berharap kepada Allah. Ia tidak menyangkal kesedihannya. Ia menangis, merasa sepi, bahkan mengakui pernah mengalami kelemahan dalam hidup rohaninya. Tetapi setiap kali jatuh, ia selalu kembali berlutut di hadapan salib Kristus.
Kelak ia akan memahami bahwa Tuhan tidak sedang mengambil segala sesuatu darinya. Tuhan sedang melepaskan satu demi satu sandaran duniawinya, agar hanya Kristus yang menjadi tempat ia bergantung.
Setelah kehilangan hampir seluruh keluarganya, Gemma berharap setidaknya masih memiliki kesehatan untuk menjalani hidup. Namun harapan itu pun perlahan sirna.
Sekitar usia dua puluh tahun, tubuhnya mulai diserang penyakit yang semakin hari semakin berat. Awalnya ia merasakan nyeri hebat pada punggung dan tulang belakang. Rasa sakit itu terus bertambah hingga membuatnya kesulitan berjalan. Dalam beberapa catatan medis pada zamannya, penyakit Gemma diduga berkaitan dengan infeksi tulang belakang, disertai komplikasi lain yang kemungkinan mencakup tuberkulosis, abses, hingga meningitis, meskipun diagnosis pastinya masih diperdebatkan oleh para sejarawan medis.
Apa pun nama penyakitnya, satu hal tidak dapat disangkal: Gemma berada di ambang kematian.
Hari-harinya dihabiskan di tempat tidur. Tubuh yang dahulu sehat kini nyaris tidak mampu bergerak. Dokter datang silih berganti. Berbagai pengobatan dicoba, tetapi kondisinya terus memburuk. Bagi banyak orang di sekitarnya, hanya tinggal menunggu waktu sebelum gadis muda itu mengembuskan napas terakhir.
Di tengah keadaan tanpa harapan itu, Gemma melakukan sesuatu yang kelak mengubah seluruh hidupnya. Ia memulai novena kepada seorang frater Passionis muda yang ketika itu belum lama wafat dan telah dikenal karena kekudusannya: Gabriel dari Bunda Maria Berdukacita (kini Santo Gabriel Possenti).
Selama sembilan hari, Gemma berdoa dengan penuh penyerahan. Ia tidak menuntut mukjizat. Ia hanya menyerahkan hidupnya kepada kehendak Tuhan.
Menurut kesaksiannya, pada hari terakhir novena ia mengalami penyembuhan yang berlangsung begitu cepat hingga mengejutkan orang-orang di sekitarnya. Tubuh yang sebelumnya hampir lumpuh mulai pulih. Sedikit demi sedikit ia kembali mampu berdiri dan berjalan. Bahkan beberapa dokter yang pernah menanganinya mengakui bahwa pemulihan tersebut sulit dijelaskan berdasarkan kondisi medis yang mereka amati saat itu.
Bagi Gemma, kesembuhan itu bukanlah akhir penderitaan.
Justru sejak saat itulah ia merasa bahwa hidupnya tidak lagi menjadi miliknya sendiri. Ia yakin Tuhan telah mengembalikannya kepada dunia untuk suatu tujuan yang belum ia mengerti.
Sesudah pulih dari penyakitnya, Gemma mengambil keputusan yang telah lama tumbuh dalam hatinya. Ia ingin mempersembahkan seluruh hidupnya kepada Tuhan sebagai seorang biarawati Passionis.
Pilihan itu bukanlah keputusan sesaat. Selama bertahun-tahun ia telah mengagumi spiritualitas Kongregasi Passionis yang menempatkan Sengsara Kristus sebagai pusat kehidupan rohani.
Baginya, salib bukan sekadar lambang iman, melainkan ungkapan kasih Allah yang paling sempurna kepada manusia.
Dengan penuh harapan, Gemma mengajukan diri untuk bergabung dengan tarekat tersebut. Namun jawaban yang diterimanya sangat berbeda dari yang ia impikan.
Ia ditolak. Bukan karena kurang saleh. Bukan karena kurang cakap!
Melainkan karena kesehatannya dianggap terlalu rapuh untuk menjalani kehidupan membiara.
Penolakan itu tentu melukai hatinya. Setelah kehilangan keluarga dan hampir kehilangan nyawa, kini pintu yang diyakininya sebagai panggilan Tuhan pun tertutup di hadapannya.
Akan tetapi, di sinilah salah satu paradoks terbesar dalam hidup Santa Gemma.
Ia tidak pernah mengenakan jubah Passionis.
Ia tidak pernah mengucapkan kaul religius sebagai anggota kongregasi itu.
Namun justru di kemudian hari, Gereja mengenangnya sebagai salah satu jiwa yang paling menghayati spiritualitas Passionis. Bahkan para imam Passionis, terutama Pastor Germano Ruoppolo yang menjadi pembimbing rohaninya, melihat dalam diri Gemma suatu persatuan dengan Sengsara Kristus yang begitu mendalam sehingga ia pantas disebut sebagai "Putri Rohani Passionis", meskipun tidak pernah secara resmi menjadi anggotanya.
Gemma perlahan mulai memahami bahwa kehendak Tuhan tidak selalu membawa seseorang ke tempat yang diinginkannya. Ada kalanya Tuhan menutup sebuah pintu, bukan untuk menghentikan perjalanan, melainkan untuk menunjukkan jalan yang sama sekali tidak pernah dibayangkan.
Ia belum mengetahui ke mana jalan itu akan membawanya.
Pada suatu Kamis malam di tahun 1899, Tuhan mulai menjawab doa yang selama ini diam-diam terus ia panjatkan: "Ya Yesus, izinkan aku mengambil bagian dalam penderitaan-Mu."
Dan sejak malam itu, hidup Gemma Galgani tidak pernah sama lagi.
Tahun 1899. Musim panas mulai menyelimuti kota Lucca.
Seperti biasa, Gemma mengawali harinya dengan menghadiri Misa Kudus. Tidak ada sesuatu yang berbeda. Tidak ada tanda-tanda bahwa hari itu akan mengubah seluruh hidupnya.
Sesudah menerima Komuni Kudus, ia kembali berdoa. Semakin lama, doanya semakin hening. Ia tidak lagi menyadari keadaan di sekelilingnya.
Dalam buku hariannya Gemma menulis bahwa dirinya seakan ditarik masuk ke dalam kehadiran Tuhan yang begitu nyata sehingga segala sesuatu di dunia seolah menghilang. (diary Santa gemma: Kamis, 19 Juli 1900).
Lalu, dalam pengalaman mistik yang kemudian menjadi salah satu bagian paling terkenal dalam hidupnya, ia melihat Yesus yang tersalib.
Kristus berdiri di hadapannya dengan luka-luka sengsara yang masih terbuka. Di samping-Nya hadir Bunda Maria.
Gemma tidak menggambarkan penglihatan itu dengan bahasa yang berlebihan. Justru kesederhanaan tulisannya membuat kesaksiannya terasa begitu kuat.
Ia hanya mengatakan bahwa dari setiap luka Kristus memancar cahaya yang menyerupai lidah api. Cahaya itu melesat menuju tubuhnya dan mengenai kedua tangan, kedua kaki, serta lambungnya.
Dalam sekejap, seluruh tubuhnya dipenuhi rasa sakit yang belum pernah ia alami sebelumnya.
Ia merasa seakan tulang-tulangnya diremukkan. Jantungnya berdegup begitu keras. Napasnya terasa sesak.
Namun di tengah rasa sakit yang hampir tak tertahankan itu, jiwanya justru dipenuhi damai yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Ketika pengalaman itu berakhir, Gemma memandang kedua tangannya.
Kulitnya telah terbuka. Darah mulai mengalir.
Luka yang sama muncul pada kedua kakinya. Kemudian pada lambungnya.
Lima luka. Persis seperti luka-luka Sengsara Kristus.
Tidak ada seorang pun yang mempersiapkannya menghadapi peristiwa itu. Tidak ada doa yang memintanya secara khusus menerima stigmata.
Yang pernah ia mohon hanyalah satu:
"Ya Yesus... izinkan aku ikut ambil bagian dalam penderitaan-Mu."
Kini doa itu dijawab dengan cara yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan.
Namun yang paling mengejutkan bukanlah munculnya luka-luka itu. Melainkan reaksi Gemma sendiri.
Ia tidak merasa bangga. Ia tidak menganggap dirinya dipilih. Ia justru menangis.
Dalam hatinya hanya ada satu pertanyaan: "Mengapa Engkau memberikan ini kepada orang yang begitu tidak layak?"
Sejak malam itu, setiap kali mengenang pengalaman tersebut, Gemma tidak pernah berbicara tentang dirinya.
Ia selalu berbicara tentang Yesus. Karena baginya, pusat dari semua itu bukanlah lima luka yang ada pada tubuhnya. Melainkan kasih Kristus yang telah lebih dahulu terluka demi menyelamatkan dunia.
Banyak mukjizat terjadi sekali seumur hidup. Tetapi Stigmata Santa Gemma berbeda. Peristiwa itu tidak berhenti pada malam pertama.
Ia datang kembali. Lalu datang lagi. Dan terus berulang. Hampir setiap pekan.
Menjelang Kamis malam, orang-orang yang tinggal serumah dengan Gemma mulai mengenali tanda-tandanya. Wajahnya menjadi semakin pucat. Ia berbicara lebih sedikit. Setelah menyelesaikan doa malam, ia biasanya masuk ke kamarnya dan berlutut di depan salib.
Tidak lama kemudian... ia memasuki ekstase.
Luka-luka yang telah menghilang selama beberapa hari mulai muncul kembali.
Mula-mula kedua tangan. Lalu kedua kaki. Kemudian lambungnya.
Darah perlahan merembes keluar, membasahi kain pembalut yang selalu ia siapkan. Rasa sakit itu berlangsung sepanjang malam. Hari Jumat menjadi saat-saat yang paling berat. Ia hampir tidak mampu berdiri. Setiap gerakan tubuh terasa seperti memperlebar luka-luka yang terbuka.
Yang membuat para saksi semakin terheran-heran adalah keteraturan waktunya. Seolah-olah seluruh tubuh Gemma mengikuti irama Pekan Suci.
Pada Kamis malam, ketika Gereja mengenangkan Perjamuan Terakhir dan doa Yesus di Taman Getsemani, luka-luka mulai terbuka.
Sepanjang hari Jumat, ketika Gereja mengenangkan Jalan Salib hingga wafat Kristus di Golgota, penderitaannya mencapai puncak.
Menjelang Sabtu pagi, darah berhenti mengalir.
Luka-luka mulai menutup. Kulitnya perlahan kembali seperti semula.
Pekan berikutnya... Semuanya dimulai lagi.
Bagi dunia medis, fenomena seperti ini sulit dipahami. Bagi Gemma, semuanya jauh lebih sederhana.
Ia tidak pernah menyebutnya sebagai mukjizat. Ia menyebutnya sebagai salib.
Dan seperti Simon dari Kirene yang membantu Yesus memanggul salib menuju Golgota, Gemma percaya bahwa Tuhan sedang mengizinkannya memikul sebagian kecil dari penderitaan Putra-Nya.
Namun ada sesuatu yang tidak diketahui banyak orang.
Luka-luka di tangan dan kaki bukanlah penderitaan terbesar yang ia alami.
Justru setiap Kamis malam, sebelum darah mengalir dari tubuhnya, ada penderitaan lain yang jauh lebih menyiksa—penderitaan yang tidak selalu dapat dilihat oleh mata manusia. Mahkota duri.
Dan itulah kisah berikutnya.
Ada satu hal yang hampir selalu luput ketika orang berbicara tentang Santa Gemma Galgani.
Semua orang mengingat darah yang mengalir dari kedua tangannya. Semua orang mengingat luka pada kaki dan lambungnya.
Namun hanya sedikit yang mengetahui bahwa penderitaan Gemma sesungguhnya dimulai jauh sebelum darah pertama menetes dari tubuhnya.
Setiap Kamis malam, ketika rumah keluarga Giannini mulai tenggelam dalam kesunyian, Gemma biasanya mengurung diri di kamarnya. Ia berlutut di depan salib kayu yang sederhana. Tidak ada lilin-lilin besar. Tidak ada nyanyian. Tidak ada keramaian.
Hanya seorang gadis muda... dan Kristus yang tergantung di kayu salib.
Dalam buku hariannya, Gemma menulis bahwa pada suatu malam Yesus memperlihatkan mahkota duri yang dikenakan-Nya ketika berjalan menuju Golgota. Lalu, dalam pengalaman batinnya, Kristus mengambil mahkota itu dan meletakkannya di atas kepala Gemma. Bukan sebagai penghormatan, melainkan sebagai ajakan untuk ikut ambil bagian dalam penderitaan-Nya.
Sejak saat itu, hampir setiap Kamis malam, rasa sakit yang sama kembali datang.
Bukan rasa sakit biasa.
Gemma menggambarkannya seperti ribuan duri yang menekan kepalanya dari segala arah. Kadang rasa nyeri itu begitu hebat hingga ia hampir tidak sanggup mengangkat wajahnya. Beberapa saksi melaporkan bahwa setelah ekstase berakhir, tampak bekas-bekas kemerahan atau luka kecil di sekitar kepalanya. Ada pula yang melihat rambutnya basah oleh darah tipis yang kemudian segera dibersihkan sebelum orang lain mengetahuinya.
Gemma sendiri hampir tidak pernah membicarakan hal itu.
Ia tidak pernah meminta orang memeriksa kepalanya.
Ia tidak pernah berkata, "Lihatlah apa yang terjadi padaku." Sebaliknya...
Gemma selalu berusaha menyembunyikannya. Karena baginya, mahkota duri bukanlah tanda bahwa ia istimewa. Mahkota duri adalah pengingat bahwa kasih selalu menuntut pengorbanan.
Getsemani yang Berulang Setiap Pekan
Yang lebih menggetarkan lagi adalah kenyataan bahwa penderitaan Gemma hampir selalu mengikuti urutan Sengsara Kristus.
Bukan hanya hari-harinya. Tetapi juga suasana batinnya.
Pada Kamis malam, sebelum luka-luka itu muncul, Gemma sering mengalami pergulatan batin yang sangat berat. Dalam doa-doanya ia merasakan kesendirian yang mendalam. Kadang ia merasa seolah-olah Tuhan begitu dekat. Namun pada saat lain, ia merasa ditinggalkan dan tidak pantas berdiri di hadapan-Nya.
Ia menangis. Ia berdoa. Ia berdiam diri.
Semua itu mengingatkan kita pada malam di Taman Getsemani, ketika Yesus sendiri bergumul dalam doa sebelum memasuki Jalan Salib.
Gemma tidak pernah mengatakan bahwa dirinya adalah Yesus.
Ia hanya percaya bahwa Tuhan sedang mengizinkannya merasakan setetes kecil dari piala yang pernah diminum Kristus.
Karena itu, ketika orang lain melihat darah... Gemma justru melihat kasih.
Ketika orang lain melihat penderitaan... Gemma melihat kesempatan untuk semakin dekat dengan Gurunya.
Luka yang Paling Dalam Tidak Mengeluarkan Darah
Akan tetapi, ada satu penderitaan yang jauh lebih berat daripada mahkota duri. Penderitaan itu tidak meninggalkan bekas pada kulit.
Tidak mengalirkan darah. Tidak dapat difoto.
Dalam buku hariannya, Gemma berkali-kali mengungkapkan ketakutan yang sangat manusiawi.
Ia takut... semua pengalaman itu hanyalah khayalannya sendiri.
Ia takut... dirinya sedang tertipu.
Ia takut... tanpa sadar sedang mencari perhatian.
Karena itulah setiap kali mengalami penglihatan atau ekstase, ia tidak pernah langsung mempercayainya. Ia selalu menceritakannya kepada pembimbing rohaninya dan menyerahkan penilaian akhir kepada Gereja. Jika pembimbingnya mengatakan bahwa ia harus melupakan pengalaman itu, ia akan melupakannya. Jika diminta diam, ia memilih diam. Semua ini lahir dari keyakinannya bahwa ketaatan lebih penting daripada pengalaman mistik apa pun.
Sikap inilah yang membuat banyak imam semakin percaya pada ketulusan Gemma. Karena orang yang mencari kemuliaan akan mempertahankan pengalaman-pengalamannya.
Tetapi Gemma... justru takut jika semua itu bukan berasal dari Tuhan.
Mungkin di mata dunia, mahkota duri adalah penderitaan terbesar Santa Gemma.
Namun di mata Gemma sendiri, penderitaan yang paling berat adalah kemungkinan bahwa ia mengecewakan Yesus.
Itulah sebabnya ia lebih sering menangis karena merasa tidak layak, daripada menangis karena rasa sakit yang menusuk kepalanya.
Dan sementara orang-orang masih berusaha memahami luka-luka yang tampak pada tubuhnya, sebuah pertempuran lain sedang berlangsung dalam keheningan.
Bukan lagi melawan rasa sakit. Melainkan melawan kegelapan yang berusaha memisahkannya dari Kristus.
Pertempuran itu berlangsung tanpa saksi. Tetapi bekasnya jauh lebih dalam daripada lima luka di tubuhnya.
Di sanalah, dalam kesunyian itu, Gemma mulai berhadapan dengan musuh yang tidak dapat dilihat oleh mata manusia.
Ada sebuah kenyataan yang berulang kali muncul dalam kehidupan para kudus.
Semakin seseorang berjalan mendekati terang Kristus, semakin nyata pula bayangan kegelapan yang berusaha menghalanginya.
Dalam buku hariannya, Gemma beberapa kali menulis bahwa ketika sedang berdoa atau mempersiapkan diri menerima Komuni Kudus, ia mengalami gangguan yang begitu nyata sehingga sulit ia ungkapkan dengan kata-kata. Kadang-kadang ia merasa didorong untuk meninggalkan doa. Pada kesempatan lain, ia merasakan ketakutan yang datang tanpa sebab, seolah-olah ada sesuatu yang ingin memisahkan dirinya dari Kristus. Ia juga mencatat pengalaman-pengalaman yang menurut keyakinannya merupakan serangan dari iblis, baik dalam bentuk godaan batin maupun gangguan fisik.
Namun, menariknya...
Gemma hampir tidak pernah menceritakan pengalaman itu dengan nada dramatis atau menggunakannya untuk menunjukkan bahwa dirinya istimewa.
Baginya, semua itu hanyalah bagian dari perjuangan mengikuti Kristus.
Rumah keluarga Giannini sering menjadi saksi malam-malam yang aneh.
Beberapa kali terdengar suara benda jatuh dari kamar Gemma.
Kursi bergeser. Pintu bergetar.
Kadang terdengar benturan keras yang membuat penghuni rumah bergegas memeriksa.
Namun ketika pintu dibuka... Gemma hanya ditemukan sedang berlutut di depan salib.
Dalam catatan Pastor Germano, serta kesaksian yang kemudian berkembang di kalangan keluarga yang mengenalnya, disebutkan bahwa Gemma mengaku pernah dipukul, rambutnya ditarik, bahkan tubuhnya diseret oleh kekuatan yang ia yakini berasal dari roh jahat.
Sementara itu, para anggota keluarga mengaku memang beberapa kali mendengar suara-suara yang tidak dapat mereka jelaskan, meskipun mereka tidak selalu melihat penyebabnya secara langsung.
Ketika Gemma pertama kali menerima stigmata (luka-luka Yesus) pada tahun 1899, ia tidak merasa bangga, melainkan merasa sangat bingung dan tidak layak. Ia mulai didera ketakutan luar biasa bahwa dirinya sedang ditipu oleh iblis yang menyamar sebagai malaikat terang. Ia sangat takut jika fenomena supranatural pada tubuhnya hanyalah sebuah delusi atau histeria belaka.
- Iblis pernah meniru rupa Yesus, Bunda Maria, bahkan bapa pengaku dosanya untuk menyesatkan Gemma.
- Ketika Gemma menyadari tipuan tersebut berkat rahmat Tuhan, ia bahkan sampai meludahi penampakan palsu itu untuk mengusirnya.
- Manipulasi yang agresif ini membuat Gemma terus-menerus cemas dan mempertanyakan keaslian setiap pengalaman rohani yang ia alami.
- Pastor Germano awalnya sangat skeptis dan mencurigai bahwa pengalaman Gemma adalah gejala penyakit mental atau histeria.
- Gemma justru merasa lega ketika para imam mengujinya, karena ia sendiri berharap bahwa semua fenomena aneh itu berhenti agar ia bisa hidup sebagai gadis biasa yang tersembunyi.
- Sesuai perintah pembimbing rohaninya, Gemma pernah berdoa meminta kepada Yesus agar luka-luka stigmatanya dihilangkan dari luar (meski rasa sakitnya tetap ada), dan Yesus mengabulkannya.
- Ketika ia diperintahkan untuk menolak atau mengabaikan penglihatan mistis karena takut itu dari iblis, Gemma mematuhinya dengan tegas.
- Keraguannya yang mendalam terhadap fenomena stigmata.
- Bagaimana ia merasa ketakutan setiap kali penglihatan rohani itu datang.
- Catatan detail mengenai gangguan dan serangan fisik yang ia terima dari iblis.
- Pencurian oleh Iblis:
Setelah Gemma selesai menulis, buku catatan setebal 93 halaman itu disimpan oleh ibu angkatnya, Signora Cecilia Giannini. Namun, buku itu tiba-tiba hilang secara misterius. Pastor Germano mendeteksi adanya keterlibatan setan dan melakukan doa eksorsisme untuk memaksa iblis mengembalikannya. - Bekas Terbakar:
Buku tersebut akhirnya mendadak muncul kembali di tempatnya. Ajaibnya, meski tulisan tangan Gemma tetap utuh dan sangat jelas terbaca, setiap halaman buku tersebut memiliki bekas gosong dan noda hitam seolah-olah baru saja didekatkan ke api neraka.
Bahkan, ada noda hitam berbentuk seperti jejak kaki hewan (cakar iblis) di beberapa halamannya.
Pada halaman tertentu (khususnya lembaran menjelang akhir buku), terdapat noda hitam pekat yang berbentuk mirip dengan tapak kaki atau cakar hewan karnivora besar (seperti kucing besar/anjing hitam).
Ada satu peristiwa dalam hidup Santa Gemma Galgani yang sering luput dari perhatian.
Padahal justru di sanalah tampak ukuran sejati kekudusannya.
Suatu hari, pembimbing rohaninya, Pastor Germano Ruoppolo, meminta sesuatu yang tidak mudah. Ia meminta Gemma berdoa agar tanda-tanda lahiriah stigmata tidak lagi tampak seperti sebelumnya.
Permintaan itu bukan karena Gereja meragukan pengalaman Gemma, melainkan karena Gereja selalu berhati-hati terhadap fenomena mistik. Perhatian umat jangan sampai berhenti pada tanda-tanda luar, tetapi harus diarahkan kepada Kristus sendiri.
Gemma tidak bertanya. Malam itu juga ia berdoa.
"Ya Yesus, bila semua ini sungguh berasal dari-Mu, dan bila Engkau menghendaki agar luka-luka ini tidak lagi tampak, aku menerimanya dengan sukacita. Jangan biarkan apa pun dalam diriku menghalangi orang untuk melihat Engkau."
Sedikit demi sedikit, luka-luka yang selama ini tampak jelas mulai tidak lagi muncul secara lahiriah sebagaimana sebelumnya. Rasa sakitnya masih tetap ia alami, tetapi tanda-tanda yang terlihat oleh orang lain semakin jarang muncul. Bagi Gemma, hal itu bukan kehilangan.
Justru itulah kebebasan. Ia tidak pernah melekat pada karunia.
Ia hanya melekat kepada Sang Pemberi Karunia.
Awal tahun 1903.
Tubuh Gemma yang rapuh mulai kembali melemah.
Penyakit yang selama bertahun-tahun menggerogoti kesehatannya semakin berat. Meskipun usianya baru dua puluh lima tahun, orang-orang di sekitarnya dapat melihat bahwa tenaga gadis muda itu perlahan habis. Namun wajahnya tetap memancarkan ketenangan yang sulit dijelaskan.
Ia tidak lagi berbicara tentang penderitaan. Ia lebih sering berbicara tentang Yesus.
Hari-hari terakhir hidupnya bertepatan dengan Pekan Suci.
Di saat Gereja mengenangkan jam-jam terakhir Sengsara Kristus, Gemma sendiri sedang menjalani "Pekan Suci" dalam hidupnya.
Pada 11 April 1903, tepat pada Sabtu Suci, ketika Gereja berada dalam keheningan menantikan fajar Paskah, Santa Gemma Galgani mengembuskan napas terakhirnya.
Usianya baru 25 tahun.
Tidak ada keramaian. Tidak ada kemegahan. Tidak ada penghormatan besar.
Hanya seorang gadis sederhana yang telah menghabiskan hidupnya dengan mencintai Yesus dalam Ekaristi dan memeluk salib-Nya dengan setia.
Ada sebuah keindahan yang hampir tidak mungkin diabaikan. Yesus berbaring di makam pada Sabtu Sunyi.
Dan Gemma pun pulang kepada Bapa pada hari yang sama dalam kalender liturgi.
Seolah-olah seluruh hidupnya—yang selama ini mengikuti irama Sengsara Kristus—akhirnya mencapai perhentian dalam keheningan Sabtu Suci.
Namun kematian bukanlah akhir kisahnya.
Bertahun-tahun kemudian, Gereja meneliti kehidupannya dengan cermat. Tulisan-tulisannya diperiksa. Kesaksian para saksi dikumpulkan. Setelah melalui proses panjang, Paus Pius XI mengkanonisasi Gemma Galgani sebagai santa pada tahun 1940.
Gadis yang dahulu merasa dirinya "tidak layak" kini dikenang di seluruh dunia sebagai salah satu mistikus terbesar Gereja Katolik.
Jenazahnya mula-mula dimakamkan di pemakaman umum Lucca. Setelah proses beatifikasi dimulai dan devosi umat semakin berkembang, jenazahnya dipindahkan ke tempat yang lebih layak untuk dihormati umat beriman.
Saat ini, tubuh Santa Gemma Galgani disemayamkan di dalam Santuario di Santa Gemma, Kota Lucca, Tuscany, Italia. Relik tubuhnya ditempatkan di dalam peti relik (reliquary) yang berada di bawah altar utama gereja. Para peziarah dapat berdoa di depan makam tersebut sepanjang tahun.
Yang menarik, tubuh Santa Gemma masih dapat dilihat melalui peti relik kaca pada kesempatan-kesempatan tertentu sesuai ketentuan tempat ziarah. Hingga kini, ribuan peziarah dari berbagai negara datang ke Lucca setiap tahun untuk berdoa di hadapan reliknya, terutama umat yang memiliki devosi kepada Sengsara Kristus.
Selain relik tubuhnya, berbagai peninggalan pribadi Santa Gemma juga masih disimpan, antara lain:
- salib yang digunakannya saat berdoa;
- buku harian (Diary);
- beberapa surat asli;
- Rosario;
- pakaian sederhana yang dikenakannya;
- benda-benda devosional lainnya.
Benda-benda tersebut menjadi saksi kehidupan seorang gadis muda yang menghidupi iman secara luar biasa dalam kesederhanaan.
Sesudah dibeatifikasi oleh Paus Pius XI pada tahun 1933 dan dikanonisasi pada tahun 1940, devosi kepada Santa Gemma berkembang sangat cepat.
Spiritualitasnya terutama dihidupi oleh:
- Kongregasi Passionis;
- komunitas-komunitas adorasi Ekaristi;
- kaum muda;
- umat yang memiliki devosi kepada Sengsara Kristus;
- mereka yang sedang memikul penderitaan berat.
Hari pestanya diperingati setiap 11 April dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik.
Di berbagai negara, novena Santa Gemma masih rutin didoakan, terutama oleh umat yang memohon kekuatan dalam menghadapi penyakit, penderitaan, dan pergumulan hidup.
Santa Pelindung
Berdasarkan tradisi devosi Katolik yang berkembang, Santa Gemma Galgani dikenal sebagai pelindung bagi:
- Apoteker dan ahli farmasi
- Orang yang menderita penyakit tulang belakang
- Mereka yang mengalami sakit kronis
Santa Gemma Galgani Doakanlah Kami
Referensi:
https://www.stgemmagalgani.com/
https://www.stgemmafoundation.com/the-story-of-st-gemma
https://www.romereports.com/en/2021/01/24/a-diary-that-was-supposedly-kidnapped-by-the-devil-is-preserved-in-rome/
https://www.stgemmagalgani.com/2012/04/highlights-of-pilgrimage-to-monastery.html
https://www.amicidilazzaro.it/en/faith-and-spirituality/saint-gemma-galgani-diary/

