Di tengah dahsyatnya Perang Reconquista tahun 1239, enam hosti suci disembunyikan agar tidak dinodai musuh. Ketika dibuka kembali setelah pertempuran, sebuah peristiwa luar biasa mengubah sejarah sebuah kota di Spanyol dan melahirkan relik yang masih dihormati hingga hari ini.
Reconquista adalah periode sejarah sepanjang hampir 800 tahun (711–1492 M) di mana kerajaan-kerajaan Kristen di Semenanjung Iberia melakukan serangkaian kampanye militer berkepanjangan untuk merebut kembali wilayah mereka dari kekuasaan kekhalifahan Muslim Moor. Perang suci yang masif ini diwarnai oleh perebutan benteng, asimilasi budaya, dan pergeseran batas wilayah yang dinamis, hingga akhirnya mencapai puncak kejayaan pada tahun 1492 ketika Raja Ferdinand dan Ratu Isabella berhasil menguasai Granada, benteng pertahanan Muslim terakhir di Spanyol.
Ringkasan

Mukjizat Ekaristi Daroca merupakan salah satu mukjizat Ekaristi paling terkenal dalam sejarah Gereja Katolik di Spanyol. Peristiwa ini diyakini terjadi pada 23 Februari 1239 di sekitar Llutxent (dahulu Luchente), Kerajaan Valencia, ketika pasukan Kristen yang sedang mengikuti masa Reconquista mempersiapkan diri menghadapi pertempuran melawan pasukan Muslim.
Menurut tradisi yang diwariskan selama berabad-abad, Pastor Don Mateo Martínez, rektor Paroki San Cristóbal de Daroca sekaligus kapelan pasukan, sedang merayakan Misa lapangan dan telah mengkonsekrasi enam hosti suci untuk dibagikan kepada enam kapten pasukan. Sebelum Komuni dibagikan, pasukan musuh dilaporkan telah mendekat sehingga Misa harus dihentikan. Demi menjaga Sakramen Mahakudus dari kemungkinan dinodai, keenam hosti dibungkus di dalam kain corporal dan disembunyikan di antara bebatuan di sekitar lokasi perkemahan.
Setelah pertempuran usai, Pastor Mateo Martínez kembali mengambil corporal tersebut. Saat dibuka, pada kain corporal tampak bercak-bercak darah yang menurut tradisi berasal dari hosti yang telah dikonsekrasi. Peristiwa ini segera dipandang sebagai tanda ilahi yang meneguhkan iman akan Kehadiran Nyata Kristus dalam Sakramen Ekaristi.
Relik corporal kemudian dibawa oleh para prajurit. Ketika terjadi perselisihan mengenai kota yang berhak menyimpannya, mereka memutuskan menyerahkan keputusan kepada penyelenggaraan Allah dengan meletakkan relik di atas seekor bagal (mule) yang dilepaskan tanpa diarahkan.
[Secara zoologi:Bagal / mule = hasil kawin silang: ayah keledai jantan -ibu kuda betina.]
Menurut tradisi, bagal tersebut berjalan hingga mencapai kota Daroca, lalu roboh dan mati di dekat Gereja San Marcos (kini dikenal sebagai Iglesia de la Trinidad). Peristiwa itu diterima sebagai tanda bahwa relik harus disimpan di Daroca, tempat relik tersebut tetap dihormati hingga sekarang di Basílica de Santa María de los Sagrados Corporales.
Berbeda dengan beberapa mukjizat Ekaristi lainnya yang memiliki penyelidikan kanonik formal, Mukjizat Daroca lebih dikenal melalui kesinambungan tradisi Gereja, pelestarian relik, serta penghormatan liturgis yang telah berlangsung selama hampir delapan abad.
Latar Belakang Sejarah
Mukjizat Daroca terjadi pada masa Reconquista, yaitu periode panjang ketika kerajaan-kerajaan Kristen di Semenanjung Iberia berusaha merebut kembali wilayah yang selama beberapa abad berada di bawah kekuasaan pemerintahan Muslim. Pada paruh pertama abad ke-13, Raja James I dari Aragon (Jaime I el Conquistador) berhasil memperluas wilayah Kerajaan Aragon dengan menaklukkan berbagai kota di kawasan Valencia.
Dalam situasi peperangan tersebut, pasukan Kristen lazim didampingi oleh seorang imam atau kapelan militer. Selain memimpin doa dan merayakan Misa, imam juga bertugas melayani kebutuhan rohani para prajurit sebelum mereka menghadapi pertempuran. Perayaan Ekaristi sebelum bertempur merupakan praktik yang umum dilakukan pada masa itu sebagai bentuk penyerahan diri kepada Tuhan dan permohonan akan perlindungan ilahi.
Menurut tradisi sejarah Daroca, pada 23 Februari 1239 sekelompok pasukan yang berasal dari Daroca, Teruel, Calatayud, dan beberapa kota lain sedang berkemah di sekitar Llutxent, wilayah yang saat itu masih menjadi bagian dari Kerajaan Valencia. Pastor Don Mateo Martínez, rektor Paroki San Cristóbal di Daroca, memimpin Misa lapangan dan telah mengkonsekrasi enam hosti suci yang dipersiapkan untuk enam kapten pasukan.
Karena peristiwa berlangsung di tengah operasi militer, Misa tidak dirayakan di sebuah gereja maupun biara, melainkan di altar sederhana yang didirikan di lokasi perkemahan. Hingga kini, lokasi persis tempat altar tersebut berdiri tidak diketahui secara pasti. Tradisi setempat mengaitkan kawasan Mont Sant di Llutxent sebagai lokasi terjadinya mukjizat, dan pada abad-abad berikutnya kawasan tersebut berkembang menjadi tempat ziarah dengan didirikannya bangunan-bangunan religius untuk mengenang peristiwa tersebut.
Kronologi Mukjizat
Pada pagi hari 23 Februari 1239, Pastor Don Mateo Martínez memulai Perayaan Ekaristi bagi pasukan Kristen yang bersiap menghadapi pertempuran. Setelah konsekrasi selesai, enam hosti suci telah dipersiapkan untuk dibagikan sebagai Komuni kepada enam kapten pasukan.
Setelah menyelesaikan konsekrasi, Pastor Don Mateo Martínez, kapelan pasukan, mempersiapkan enam hosti suci untuk dibagikan kepada enam kapten yang memimpin pasukan Kristen. Menurut tradisi Daroca, keenam kapten tersebut adalah Don Jiménez Pérez, Don Fernando Sánchez, Don Pedro, Don Raimundo, Don Guillermo, dan Don Simone Carroz.
Namun sebelum Komuni dibagikan, terdengar laporan bahwa pasukan lawan telah bergerak mendekati posisi mereka sehingga perayaan Misa harus segera dihentikan.
Demi mencegah Sakramen Mahakudus jatuh ke tangan musuh atau mengalami penodaan apabila pertempuran mencapai lokasi perkemahan, Pastor Mateo Martínez segera membungkus keenam hosti dengan kain corporal, melipatnya, kemudian menyembunyikannya di antara bebatuan..
Pasukan Kristen kemudian memasuki pertempuran.
Tradisi menyebut bahwa setelah pertempuran berakhir dan situasi kembali aman, Pastor Mateo Martínez mengambil kembali corporal yang disembunyikan sebelumnya.
Saat lipatan kain korporal itu perlahan dibuka, Pastor dan para prajurit mendapati bahwa keenam Hosti suci tersebut telah lenyap sepenuhnya tanpa sisa, meleleh menjadi berkas darah segar yang merembes kuat pada linen suci. Di atas kain tersebut, kini terukir jelas enam lingkaran noda darah merah membara yang menandai posisi masing-masing Hosti yang telah bermutasi secara ajaib.
Setelah menerima Komuni, mereka meminta Pastor Mateo mengangkat corporal yang berlumuran darah pada sebuah bingkai atau mengikatnya pada ujung tombak sehingga menjadi panji yang dibawa di depan pasukan.
Dengan panji tersebut mereka kembali menyerbu benteng Chío dan berhasil merebutnya. Tradisi kemudian mengaitkan kemenangan itu dengan Mukjizat Ekaristi yang baru saja mereka saksikan.
Peristiwa tersebut segera menyebar di antara pasukan dan dipandang sebagai tanda ilahi yang meneguhkan iman akan Kehadiran Nyata Kristus dalam Sakramen Ekaristi.
Setelah kemenangan diraih, muncul perbedaan pendapat mengenai kota yang berhak menyimpan relik mukjizat. Untuk menghindari perselisihan, para prajurit sepakat menyerahkan keputusan kepada penyelenggaraan Allah. Relik corporal diletakkan di atas seekor bagal yang tidak diarahkan menuju kota mana pun.
Bagal tersebut berjalan melintasi berbagai wilayah hingga akhirnya tiba di Daroca. Sesampainya di depan Gereja San Marcos, hewan itu berhenti, kemudian roboh dan mati. Peristiwa tersebut diterima sebagai petunjuk bahwa relik Mukjizat Ekaristi harus disimpan di Daroca. Di lokasi tempat bagal itu roboh kini terdapat sebuah prasasti peringatan yang mengabadikan tradisi tersebut. Relik kemudian dipindahkan ke Gereja Santa María, yang kelak berkembang menjadi Basílica de Santa María de los Sagrados Corporales, tempat relik disimpan dan dihormati hingga saat ini.

Tempat "Daroca menemukan Harta Karun Tak Ternilai dari Kain-Kain Suci"
karena di sinilah keledai yang membawanya mati.
Penyelidikan Gereja / Kanonik
Pada masa terjadinya Mukjizat Ekaristi Daroca tahun 1239, Gereja belum memiliki prosedur penyelidikan kanonik terhadap mukjizat sebagaimana dikenal pada zaman modern. Selain itu, peristiwa tersebut berlangsung di tengah operasi militer pada masa Reconquista sehingga perhatian utama para saksi bukanlah menyusun laporan investigasi, melainkan menjaga Sakramen Mahakudus dan membawa relik corporal ke tempat yang aman.
Oleh karena itu, hingga kini tidak ditemukan dokumen yang menunjukkan adanya komisi penyelidikan resmi yang dibentuk segera setelah mukjizat terjadi. Pengakuan Gereja terhadap Mukjizat Daroca berkembang secara bertahap melalui penerimaan relik oleh otoritas gerejawi, pelestarian relik secara berkesinambungan, serta berkembangnya devosi umat selama berabad-abad.
Menurut tradisi sejarah Daroca, pada tahun 1261 para deputi kota Daroca bersama dewan kota melakukan perjalanan ke Roma untuk melaporkan mukjizat tersebut kepada Pope Urban IV. Sebuah artikel sejarah yang ditulis oleh Pastor M. Traval, SJ, menyebutkan bahwa delegasi tersebut diperkenalkan kepada Paus oleh Thomas Aquinas dan Bonaventure. Tradisi yang sama juga menghubungkan kunjungan tersebut dengan berkembangnya devosi Ekaristi pada masa Pope Urban IV yang kemudian menetapkan Hari Raya Corpus Christi pada tahun 1264. Namun, hubungan langsung antara delegasi Daroca dan penetapan hari raya tersebut belum ditemukan dalam sumber-sumber akademik independen sehingga lebih tepat dipahami sebagai bagian dari tradisi sejarah Daroca.
Pada abad-abad berikutnya, penghormatan terhadap relik terus berkembang. Berbagai Paus memberikan hak-hak liturgis, indulgensi, dan keistimewaan kepada tempat ziarah Daroca, yang menunjukkan bahwa devosi terhadap Los Sagrados Corporales diterima dan dipelihara dalam kehidupan Gereja, meskipun tidak diawali oleh suatu penyelidikan kanonik formal sebagaimana praktik pada masa kini.

Dokumentasi dan Relik yang Masih Ada
Berbeda dengan banyak mukjizat abad pertengahan yang hanya dikenal melalui kronik tertulis, Mukjizat Daroca masih memiliki relik yang dihormati hingga sekarang, yaitu kain corporal yang menurut tradisi memuat noda darah dari keenam hosti yang telah dikonsekrasi.
Relik tersebut kini disimpan di Basílica de Santa María de los Sagrados Corporales di Daroca, Provinsi Zaragoza, Spanyol. Basilika ini menjadi pusat devosi kepada Mukjizat Daroca dan tujuan peziarahan umat Katolik dari berbagai negara.
Walaupun relik kini berada di Daroca, tradisi Gereja membedakan antara lokasi mukjizat dan lokasi penyimpanan relik. Mukjizat diyakini terjadi di sekitar Llutxent (Luchente), Provinsi Valencia. Titik persis tempat corporal disembunyikan dan ditemukan kembali tidak diketahui secara pasti oleh sejarah. Namun kawasan Mont Sant secara turun-temurun dihormati sebagai lokasi terjadinya mukjizat.
Untuk mengenang peristiwa tersebut kemudian dibangun beberapa tempat ibadat di kawasan itu, di antaranya Ermita del Santísimo Cristo del Miracle dan Monasterio del Corpus Christi, yang hingga kini menjadi bagian dari tradisi ziarah Mukjizat Daroca.
Tradisi juga menyebut bahwa bagal yang membawa relik akhirnya berhenti dan mati di depan Gereja San Marcos, yang sekarang dikenal sebagai Iglesia de la Trinidad di Daroca. Pada lokasi tersebut terdapat sebuah prasasti peringatan yang menandai tempat menurut tradisi bagal itu roboh. Relik kemudian dipindahkan ke Gereja Santa María dan sejak saat itu terus disimpan serta dihormati di sana.

Keberadaan relik corporal, bangunan-bangunan religius yang didirikan untuk mengenang peristiwa tersebut, arsip gereja, serta kesinambungan devosi selama hampir delapan abad menjadikan Mukjizat Daroca sebagai salah satu mukjizat Ekaristi dengan tradisi penghormatan yang paling panjang di Spanyol.
Makna Spiritual
Mukjizat Ekaristi Daroca mengingatkan umat beriman akan iman Gereja mengenai Kehadiran Nyata Kristus dalam Sakramen Ekaristi. Di tengah situasi perang yang penuh ketidakpastian, mukjizat ini dipahami sebagai penghiburan rohani bagi mereka yang tetap mengutamakan penghormatan kepada Sakramen Mahakudus bahkan ketika keselamatan diri mereka sendiri berada dalam ancaman.
Peristiwa ini juga memperlihatkan penghormatan mendalam para prajurit terhadap Ekaristi. Sebelum memikirkan kemenangan dalam peperangan, mereka terlebih dahulu berusaha melindungi hosti yang telah dikonsekrasi dari kemungkinan dinodai. Sikap tersebut menjadi kesaksian bahwa bagi mereka, Kristus yang hadir dalam Ekaristi memiliki martabat yang jauh melampaui kepentingan duniawi.
Tradisi mengenai perjalanan bagal yang membawa relik menuju Daroca juga mengandung pesan rohani tentang penyerahan diri kepada penyelenggaraan Allah. Ketika manusia tidak mampu menyelesaikan perselisihan mengenai tempat penyimpanan relik, keputusan diserahkan kepada kehendak Tuhan. Terlepas dari nilai historis tradisi tersebut, kisah itu telah menjadi lambang kepercayaan bahwa Allah tetap membimbing Gereja dalam memelihara tanda-tanda iman yang dipercayakan kepada-Nya.
Hingga kini, Mukjizat Daroca tidak hanya dikenang melalui relik corporal yang masih dihormati, tetapi juga melalui kehidupan liturgi, tradisi ziarah, dan devosi Ekaristi yang terus berlangsung. Bagi banyak peziarah, mukjizat ini bukan sekadar kisah sejarah abad pertengahan, melainkan undangan untuk memperbarui iman akan kehadiran Kristus dalam Sakramen Mahakudus serta memelihara penghormatan yang layak terhadap Ekaristi.
Referansi:
https://www.corazones.org/lugares/espana/daroca/daroca_mila_eu.htm
https://webcatolicodejavier.org/mDaroca.html
https://es.gaudiumpress.org/content/el-milagro-eucaristico-de-daroca

