Para Tokoh Ekaristi • hostia.site

Para pilar, teladan dan pelindung Ekaristi

Santo Thomas Aquinas; Jembatan Agung Antara Iman dan Akal Budi

Santo Thomas Aquinas (1225–1274) adalah seorang imam Katolik dari Ordo Dominikan, teolog, dan filsuf abad pertengahan asal Italia yang menjadi salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Gereja Barat.

Ia dianugerahi gelar Doctor Angelicus (Doktor Malaikat) dan diakui sebagai Pujangga Gereja karena ketajaman intelektualnya yang luar biasa dalam menyelaraskan iman Kristiani dengan akal budi manusia.


Riwayat  & Panggilan Hidup:

Santo lahir di Roccasecca, dekat Aquino, Italia, dari sebuah keluarga bangsawan kaya.
Memulai pendidikan di Monte Cassino, lalu melanjutkan studi filsafat di Universitas Napoli.
 

Memilih Jalan Kemiskinan demi Kristus

Ketika menempuh pendidikan di Universitas Napoli sekitar tahun 1244, Thomas Aquinas mulai mengenal Ordo Pengkhotbah (Ordo Dominikan), sebuah tarekat yang didirikan oleh Santo Dominikus untuk mewartakan Injil melalui kehidupan doa, studi, dan pewartaan.
Berbeda dengan kehidupan para bangsawan yang penuh kemewahan, para Dominikan hidup sederhana, mengandalkan belas kasih umat, dan mengabdikan diri sepenuhnya bagi pelayanan Gereja.

Pergaulannya dengan para biarawan Dominikan membuat Thomas semakin yakin bahwa Tuhan memanggilnya untuk menempuh jalan hidup religius. Keputusan ini sangat mengejutkan keluarganya. Sebagai putra dari keluarga bangsawan Aquino, Thomas telah dipersiapkan untuk meraih jabatan bergengsi dalam Gereja. Keluarganya berharap ia kelak menjadi Abas (kepala biara) Monte Cassino, sebuah kedudukan yang terhormat, berpengaruh, dan menjanjikan kesejahteraan.

Bagi keluarganya, bergabung dengan Ordo Dominikan merupakan pilihan yang sulit diterima. Pada masa itu, Dominikan masih tergolong tarekat baru yang mengikrarkan kemiskinan dan tidak menawarkan kedudukan maupun kekayaan. Mereka khawatir Thomas menyia-nyiakan masa depannya dan mencoreng kehormatan keluarga.

Penolakan itu mencapai puncaknya ketika saudara-saudaranya mencegat Thomas dalam perjalanan menuju Paris. Ia dibawa kembali ke kastil keluarga di Roccasecca dan ditahan selama hampir satu tahun. Selama masa penahanan itu, berbagai cara dilakukan agar ia membatalkan niatnya: mulai dari bujukan, tekanan emosional, hingga janji akan kehidupan yang nyaman dan penuh kehormatan.

Menurut tradisi Dominikan, keluarganya bahkan pernah mengirim seorang perempuan ke kamar Thomas dengan harapan menggoyahkan panggilannya. Thomas segera mengusir perempuan itu. Setelah kejadian tersebut, ia mengambil sepotong kayu yang sedang terbakar dari perapian dan membuat tanda salib di dinding kamarnya sebagai lambang penolakannya terhadap godaan. Ia kemudian berlutut dan berdoa memohon kekuatan untuk tetap setia kepada Kristus.

Melihat bahwa segala usaha mereka tidak berhasil menggoyahkan tekadnya, keluarga Thomas akhirnya menyerah. Ia diizinkan meninggalkan kastil dan kembali bergabung dengan Ordo Dominikan. Dari sana ia melanjutkan perjalanan menuju Paris untuk memperdalam studi teologi, sebuah keputusan yang kelak mengubah sejarah pemikiran Gereja.

Ia kemudian menjadi murid utama Santo Albertus Magnus di Paris dan Köln, yang mengenalkannya pada pemikiran filsuf Yunani, Aristoteles.


Kontribusi dan Pemikiran Utama

  • Iman dan Akal Budi: Thomas menegaskan bahwa iman dan akal budi tidak saling bertentangan melainkan saling melengkapi karena keduanya berasal dari satu sumber, yaitu Allah.
  • Sintesis Aristotelian: Ia berhasil memadukan teologi Kristen dengan filsafat rasional Aristoteles.
  • Lima Jalan (Quinque Viae): Merupakan lima bukti filosofis rasional yang ia susun untuk membuktikan keberadaan Allah berdasarkan pengamatan terhadap alam semesta.
  • Empat Jenis Hukum: Ia membagi konsep hukum menjadi Lex Aeterna (Hukum Abadi), Lex Naturalis (Hukum Alam), Lex Humana (Hukum Manusia), dan Lex Divina (Hukum Ilahi).

Karya-Karya Terkenal

  • Summa Theologiae – Karya agung Santo Thomas Aquinas yang disusun sebagai pedoman sistematis untuk mempelajari teologi Katolik. Dalam karya monumental ini, ia membahas hampir seluruh pokok iman Kristen—mulai dari hakikat Allah, penciptaan, manusia, dosa, kebajikan, hukum moral, Kristus, sakramen, hingga tujuan akhir manusia, yaitu persatuan kekal dengan Allah. Disusun dengan metode pertanyaan, keberatan, jawaban, dan kesimpulan, Summa Theologiae menjadi salah satu karya teologi paling berpengaruh dalam sejarah Kekristenan dan hingga kini masih digunakan sebagai rujukan utama di seminari, universitas, serta lembaga pendidikan Katolik di seluruh dunia.

  • Summa Contra Gentiles – Sebuah karya apologetika yang ditulis Santo Thomas Aquinas untuk membekali para misionaris, khususnya anggota Ordo Dominikan, dalam berdialog dengan kaum non-Kristen, seperti Muslim, Yahudi, dan para filsuf yang tidak menerima wahyu Kristiani. Berbeda dengan Summa Theologiae yang ditujukan terutama bagi pembinaan teologi umat Kristen, karya ini mengandalkan penalaran filosofis dan argumen akal budi sebagai titik tolak pembahasan. Thomas menunjukkan bahwa banyak kebenaran dasar—seperti keberadaan Allah, sifat-sifat-Nya, dan hukum moral—dapat dikenali melalui akal manusia, sementara misteri-misteri iman, seperti Tritunggal Mahakudus dan Inkarnasi, diterima melalui wahyu ilahi.
    Hingga kini, Summa contra Gentiles dipandang sebagai salah satu karya klasik apologetika Kristen yang memperlihatkan bagaimana iman dapat dipertanggungjawabkan secara rasional tanpa mengabaikan peran wahyu.

  • Madah Liturgi – Selain dikenal sebagai teolog dan filsuf, Santo Thomas Aquinas juga merupakan seorang penyair liturgi yang berbakat. Atas permintaan Paus, ia menyusun sejumlah madah untuk perayaan Hari Raya Tubuh dan Darah Kristus (Corpus Christi) pada abad ke-13. Karya-karyanya, seperti Pange Lingua, Tantum Ergo, Adoro Te Devote, dan Lauda Sion, mengungkapkan iman Gereja akan kehadiran nyata Kristus dalam Ekaristi dengan bahasa yang indah, mendalam, dan sarat makna teologis. Selama lebih dari tujuh abad, madah-madah tersebut tetap digunakan dalam liturgi Gereja Katolik di seluruh dunia, menjadikannya salah satu warisan spiritual Santo Thomas Aquinas yang paling abadi.

Akhir Hidup

Pada awal tahun 1274, Santo Thomas Aquinas dipanggil oleh Paus untuk menghadiri Konsili Lyon Kedua, yang bertujuan membahas pembaruan Gereja dan upaya memulihkan persatuan antara Gereja Barat dan Gereja Timur. Dalam perjalanan menuju Lyon, kesehatannya memburuk setelah mengalami sakit. Ia kemudian dibawa ke Biara Sistersian di Fossanova, Italia, tempat ia menghabiskan hari-hari terakhirnya dalam doa dan persiapan rohani. Santo Thomas Aquinas wafat pada 7 Maret 1274 dalam usia sekitar 49 tahun. Meskipun hidupnya relatif singkat, warisan intelektual dan spiritual yang ditinggalkannya menjadikannya salah satu teolog dan filsuf paling berpengaruh dalam sejarah Gereja Katolik.

Gereja Katolik memperingati pesta namanya setiap tanggal 28 Januari. Ia juga ditetapkan sebagai santo pelindung bagi para mahasiswa, akademisi, sekolah, dan universitas.

 


Referensi : Artikel Disadur dari berbagai sumber